1.
Tanya:
Tuhan kok haus, Tuhan kok lapar, Tuhan kok.....
Jawab:
Penuduh kurangmemahami bagaimana ke-Inkarnasian Allah!
Keinkarnasian Allah [inkarnasi; dalam wujud Manusia], adalah di mana Allah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti Manusia:
*Filipi 2:6-8,
6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Begitulah keinkarnasian Allah, di mana Allah mengosongkan diri-Nya, menjadi sama seperti manusia.
Dalam kekosongan-Nya ini, membuat Ia bisa merasakan lapar, lelah, tidur, dan hal-hal kemanusiaan lainnya.
Kristus datang ke dunia bukan untuk memamerkan segala yang Ia miliki, melainkan sebagai penggenap Taurat Allah, dan jika semua yang ada di hukum Taurat dan kitab para nabi tergenapi maka berakhirlah;
*Matius 5:18,
Karena Aku brkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap lagit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, SEBELUM SEMUANYA TERJADI.
Kita jangan mengabaikan frasa yang di hurufbesarkan.
Setidaknya kita sudah langsung paham, apa makna nas di atas, terutamanya memperhatikan frasa yang di hurufbesarkan.
Yaitu hukum Taurat dan kitab para nabi tidak akan berakhir sebelum semuanya terjadi, nah bagaimana kalau semuanya sudah terjadi?
Tentu saja akan berakhir.
*Lukas 16:16,
Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
Dan dalam pekerjaan-Nya ini dilakukan-Nya dalam masa-masa inkarnasi-Nya. Yang demikian juga termasuk dalam menghapus dosa manusia.
Saya tadi ada mengatakan:
Allah konsisten menjalankan sakramen, sekali pun Ia sendiri yang menjadi korban itu.
Konsisten yang saya maksud, selain Allah tidak mengubah sakramen (sakramennya tetap, sama-sama mengalami penderitaan), juga termasuk dalam status, di mana pada saat Penyaliban, Ia masih mengosongkan diri-Nya sehingga Ia betul-betul merasakan siksaan itu, karena kalau Ia tidak mengosongkan diri-Nya pastilah ketika menjalankan sakramen tidak ada derita yang dirasakan-Nya.
*Yohanes 14:28,
. . ., sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
Nas di atas di katakan oleh Yesus saat masa inkarnasi-Nya,
dan kita tahu bagaimana keinkarnasian Yesus, di mana Ia bisa merasakan haus, lapar, tidur, d.l.l, yang tentunya tidak di alami oleh Bapa. Sehingga kedudukan Bapa terlihat lebih besar dari pada Yesus.
[Bahasa Manusianya;
Pada dasarnya Bapa (Tuhan) tidak seperti Yesus (Tuhan menjadi Manusia, masa kemanusiaan) yang bisa merasakan lapar, haus, dll, hal ini di rasakan-Nya ketika Ia menjadi Yesus. Sehingga kedudukan-Nya sebagai Tuhan (Bapa) pastinya lebih besar dibanding kedudukan-Nya sebagai Manusia (Yesus) yang dibatas-batasi.]
Tetapi sekembali-Nya Ia kepada Bapa, Ia akan kembali kepada kedudukan-Nya dan menjadi Bapa itu sendiri:
*Matius 28:18,
Kepada-Ku telah diberikan [harfiah: kembali] segala kuasa di sorga dan di bumi.
Ini sesuai dengan nubuat nabi Daniel;
*Daniel 7:13-14,
13Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia di bawa ke hadapan-Nya.
14Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
Yesus adalah Tuhan yang menjadi Manusia dan kembali menjadi Tuhan (bukan Manusia yang menjadi Tuhan).
*Yohanes 17:8,
Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Bahasa yang Yesus gunakan adalah bahasa yang dalam. Perkataan ini sama persis dengan kata 'diberikan' pada kitab Matius 28 dan Daniel 7.
Perkataan di atas, dapat disesuaikan dgn kitab PL berikut;
*Yesaya 55:11,
demikianlah firman-Ku yang keluar
dari mulut-Ku:
ia tidak akan kembali kepada-Ku
dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa
yang Kukehendaki,
dan akan berhasil dalam apa
yang Kusuruhkan kepadanya.
Jadi, tidak lain atas apa yang Yesus (Firman) katakan di atas dimaksudkan Yesus sedang menyatakan keberhasilan-Nya yang sudah dinubuatkan!
Tuhan mengutus Tuhan, bak Tuhan mengutus Firman-Nya, sesuai dgn nas Yesaya di atas. :)
Nb:
1. Memang ada banyak bukti ke-Hambaan Kristus, tetapi bukti itu bukanlah novum untuk meruntuhkan ke-Tuhanannya, melainkan sebagai novum bahwa Ia memang benar menjadikan diri-Nya Sebagai Hamba.
Sabtu, 29 September 2012
5. Surat Menyurat part II!
2.
Tanya:
Penebusan Dosa.
Taggapan:
Kenapa harus ada penebusan dosa?
Kristen adalah 'agama sacramental' ( sacrament religion) yaitu; agama yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh melalui "penebus dosa", bukan dari amal-ibadah (saja).
Prinsip ke-Kristenan ini tidak di miliki oleh agama semitik lainnya misalnya Islam yang hanya menitik beratkan kepada "amal-ibadah" saja, bukan sakramen.
Ketetapan Sakramen sudah ditetapkan, dan ditunjukkan oleh Allah sejak Adam pertama jatuh ke dalam dosa yaitu "darah".
Allah melalui ketentuan hukum Taurat, menetapkan: hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), lihat ayat ini:
*Ibrani 9:22,
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
Ketentuan Korban penghapusan dosa/kesalahan/pelanggaran keseluruhannya adalah dengan "menumpahkan darah".
Dalam Imamat dicatatat macam-macam korban sbb:
-Korban bakaran (Imamat 1:1-17); darah
-Korban Sajian (Imamat 2:1-16) ; tepung/minyak
-Korban Kedamaian/keselamatan (Imamat 3:1-17) ; darah
-Korban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35) ; darah
-Korban Pelanggaran (Imamat 5:1-13) ; darah, (orang miskin boleh memakai tepung dibakar diatas korban "darah" binatang orang lain).
-Korban penebus salah (Imamat 5:14-19; 6:1-7) ; darah
Pada zaman Perjanjian Lama, penumpahan darah sebagai korban pengampunan dosa ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah,
*Kejadian 8:20,
Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
Ini dilakukan berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Mesias pada Perjanjian Baru (Yesaya 53).
Nubuat Lain:
*Kejadian 3:15,
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular) dan perempuan (Hawa) ini, antara keturunanmu dan keturunannya: keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.
::
Keturunannya (akhirnya Yesus), akan meremukkan kepala ular (mengalahkan total), tetapi ular akan meremukkan tumitnya (membuat Ia berdarah).
Nubuat kedatangan Kristus di mulai ketika jatuhnya Adam ke dalam dosa.
Pengakuan Allah:
*Yesaya 43:22-25,
22"Sungguh, engkau tidak memanggil Aku, hai Yakub,
dan engkau tidak bersusah-susah karena Aku, hai Israel
[Yakub adalah sinonim dari Israel, Kej. 32:28]
23Engkau tidak membawa domba korban bakaraanmu bagi-Ku,
dan tidak memuliakan Aku
dengan korban sembelihanmu.
[Seperti penjelasan sebelumnya bagaimana penebusan dosa Kristen/Yahudi itu, yaitu melalui korban bakaran. Dan Israel tidak membawa korban itu]
Aku tidak memberati engkau
dengan menuntut korban sajian
atau menyusahi engkau dengan
menuntut kemenyan.
24Engkau tidak membeli tebu wangi
bagi-Ku dengan uang,
atau mengenyangkan Aku dengan
lembak korban sembelihanmu.
[Allah tidak memberati manusia dalam hal di atas]
Tetapi engkau memberati Aku
dengan dosamu,
engkau menyusahi Aku dengan
kesalahanmu.
[Manusia tidak membawa atau tidak di tuntut dgn apapun, karena Allah-lah yang diberati dan disusahi atas dosa dan kesalahan manusia]
25Aku, Akulah Dia yang menghapus
dosa pemberontakanmu oleh
karena Aku sendiri
dan Aku tidak meningat-ingat
dosamu.
[Allah mengakui bahwa Ia adalah Yesus (yang menghapus dosa manusia), dosa manusia terhapus bukan karena manusia sebab manusia tidak diberati oleh apa pun, tetapi oleh karena Allah sendiri. Dan Ia tidak mengingat dosa manusia. Allah-lah yang menjadi domba (korban sembelihan) manusia. Allah konsisten menjalankan sakramen, sekali pun Ia sendiri yang menjadi korban itu.]
*Yesaya 43:10,
"Kamu inilah saksi-saksi-Ku,"
demikianlah firman TUHAN,
"dan hamba-Ku yang telah Kupilih,
supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku
dan mengerti bahwa Aku tetap Dia.
Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk,
dan sesudah Aku tidak akan ada
lagi
[Sebelum YHWH, tidak ada Allah yang dibentuk (menjadi manusia), dan setelah Ia tidak ada lagi.]
Ini tidak mustahil untuk TUHAN lakukan, dan TUHAN (YHWH) yang adalah Tuhan kami menantang siapa saja yang mau mencegah Ia:
*Yesaya 43:13,
Juga seterusnya Aku tetap Dia,
dan tidak ada yang dapat
melepaskan dari tangan-Ku;
Aku melakukannya, siapakah
yang dapat mencegahnya?"
Haleluya!
m.facebook.com/story.php?story_fbid=269717733110843&id=100002178547439&refid=0&_ft_=fbid.269717733110843
Tanya:
Penebusan Dosa.
Taggapan:
Kenapa harus ada penebusan dosa?
Kristen adalah 'agama sacramental' ( sacrament religion) yaitu; agama yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh melalui "penebus dosa", bukan dari amal-ibadah (saja).
Prinsip ke-Kristenan ini tidak di miliki oleh agama semitik lainnya misalnya Islam yang hanya menitik beratkan kepada "amal-ibadah" saja, bukan sakramen.
Ketetapan Sakramen sudah ditetapkan, dan ditunjukkan oleh Allah sejak Adam pertama jatuh ke dalam dosa yaitu "darah".
Allah melalui ketentuan hukum Taurat, menetapkan: hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), lihat ayat ini:
*Ibrani 9:22,
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
Ketentuan Korban penghapusan dosa/kesalahan/pelanggaran keseluruhannya adalah dengan "menumpahkan darah".
Dalam Imamat dicatatat macam-macam korban sbb:
-Korban bakaran (Imamat 1:1-17); darah
-Korban Sajian (Imamat 2:1-16) ; tepung/minyak
-Korban Kedamaian/keselamatan (Imamat 3:1-17) ; darah
-Korban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35) ; darah
-Korban Pelanggaran (Imamat 5:1-13) ; darah, (orang miskin boleh memakai tepung dibakar diatas korban "darah" binatang orang lain).
-Korban penebus salah (Imamat 5:14-19; 6:1-7) ; darah
Pada zaman Perjanjian Lama, penumpahan darah sebagai korban pengampunan dosa ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah,
*Kejadian 8:20,
Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
Ini dilakukan berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Mesias pada Perjanjian Baru (Yesaya 53).
Nubuat Lain:
*Kejadian 3:15,
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular) dan perempuan (Hawa) ini, antara keturunanmu dan keturunannya: keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.
::
Keturunannya (akhirnya Yesus), akan meremukkan kepala ular (mengalahkan total), tetapi ular akan meremukkan tumitnya (membuat Ia berdarah).
Nubuat kedatangan Kristus di mulai ketika jatuhnya Adam ke dalam dosa.
Pengakuan Allah:
*Yesaya 43:22-25,
22"Sungguh, engkau tidak memanggil Aku, hai Yakub,
dan engkau tidak bersusah-susah karena Aku, hai Israel
[Yakub adalah sinonim dari Israel, Kej. 32:28]
23Engkau tidak membawa domba korban bakaraanmu bagi-Ku,
dan tidak memuliakan Aku
dengan korban sembelihanmu.
[Seperti penjelasan sebelumnya bagaimana penebusan dosa Kristen/Yahudi itu, yaitu melalui korban bakaran. Dan Israel tidak membawa korban itu]
Aku tidak memberati engkau
dengan menuntut korban sajian
atau menyusahi engkau dengan
menuntut kemenyan.
24Engkau tidak membeli tebu wangi
bagi-Ku dengan uang,
atau mengenyangkan Aku dengan
lembak korban sembelihanmu.
[Allah tidak memberati manusia dalam hal di atas]
Tetapi engkau memberati Aku
dengan dosamu,
engkau menyusahi Aku dengan
kesalahanmu.
[Manusia tidak membawa atau tidak di tuntut dgn apapun, karena Allah-lah yang diberati dan disusahi atas dosa dan kesalahan manusia]
25Aku, Akulah Dia yang menghapus
dosa pemberontakanmu oleh
karena Aku sendiri
dan Aku tidak meningat-ingat
dosamu.
[Allah mengakui bahwa Ia adalah Yesus (yang menghapus dosa manusia), dosa manusia terhapus bukan karena manusia sebab manusia tidak diberati oleh apa pun, tetapi oleh karena Allah sendiri. Dan Ia tidak mengingat dosa manusia. Allah-lah yang menjadi domba (korban sembelihan) manusia. Allah konsisten menjalankan sakramen, sekali pun Ia sendiri yang menjadi korban itu.]
*Yesaya 43:10,
"Kamu inilah saksi-saksi-Ku,"
demikianlah firman TUHAN,
"dan hamba-Ku yang telah Kupilih,
supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku
dan mengerti bahwa Aku tetap Dia.
Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk,
dan sesudah Aku tidak akan ada
lagi
[Sebelum YHWH, tidak ada Allah yang dibentuk (menjadi manusia), dan setelah Ia tidak ada lagi.]
Ini tidak mustahil untuk TUHAN lakukan, dan TUHAN (YHWH) yang adalah Tuhan kami menantang siapa saja yang mau mencegah Ia:
*Yesaya 43:13,
Juga seterusnya Aku tetap Dia,
dan tidak ada yang dapat
melepaskan dari tangan-Ku;
Aku melakukannya, siapakah
yang dapat mencegahnya?"
Haleluya!
m.facebook.com/story.php?story_fbid=269717733110843&id=100002178547439&refid=0&_ft_=fbid.269717733110843
4. Surat Menyurat part I!
1.
Tanya:
Dosa Asal.
Jawab:
Dosa-asal tidak ada hubungannya dengan pemindahan muatan dosa dari siapa saja, melainkan merupakan penjalaran imbasan kultur dosa Adam yang diturunkan kepada seluruh peradaban umat manusia sejak Adam dikutuk dan diusir dari Taman Eden.
Dihadapan Allah, seluruh umat manusia adalah satu didalam kutukan dosa, telah menjadi hamba dosa, condong dan bernafsu berbuat sebagai warisan turun-temurun, dan memang nyatanya telah berbuat dosa:
*Roma 5:12,
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
*Roma 6:16-17,
16Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
17Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
Teman-teman dari kalangan Muslim sering "menuduh" bahwa konsep dosa asal, atau dosa waris, atau apa pun namanya, berasal dari rasul Paulus. Tuduhan itu jelas tidak tepat karena ternyata ide tentang dosa asal itu telah ada di dalam Perjanjian Lama:
*Mazmur 51:5,
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Kutukan atas pelanggaran Adam:
1. Berpeluh untuk mencari makan (Kejadian 3:19)
2. Bersusah-payah mencari rejeki (Kejadian 3:17)
3. Harus menderita sakit (termasuk sakit bersalin), (Kejadian 3:16)
4. Harus merasakan kesedihan (bersusah- payah) dan mengalami kematian jasmani (Kejadian 3:19).
Ujud-ujud kutukan diatas tidak terhindarkan oleh siapapun juga, sekalipun ia seorang nabi.
Dosa-asal dari manusia telah melahirkan semua kesengsaraan ini.
Ini sungguh bertolak belakang dengan Ajaran dari kalangan Muslim, yang justru sering mempermasalahkan Dosa-asal dalam ajaran Kristiani. Dalam ajaran Muslim menyatakan bahwa Allah tidak mengutuk siapa-siapa karena Adam langsung bertobat dan dosanya telah diampuni.
Kalau begitu, darimana datang kesengsaraan dan kejahatan dunia?
Dan Al~Qur'an menjawab bahwa Allah sendiri yang menciptakannya;
*QS. 90:4,
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
*QS 20:123,
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua (Adam dan Hawa) dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain……
Bilamana Allah yang menciptakan penderitaan dunia tanpa kesalahan dari pihak manusia, maka seharusnya – dari sisi keadilan Allah – Ia pulalah yang harus bertanggung jawab mutlak untuk memerdekakan kita semua, tanpa syarat!
Tetapi, Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia dengan segala ciptaanNya dalam keadaan baik karena Ia Maha-Baik.
Dalam satu pasal awal yang pendek saja dari Kitab Kejadian, kita diberitahu sebanyak 6 kali (!) bahwa Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (Kejadian 1:21) dan "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kejadian 1:31).
Allah Alkitab yang Maha-Baik tidak pernah dan tidak mungkin menciptakan manusia itu dalam keadaan susah-payah.
Alkitab mengajarkan bahwa seseorang itu sudah berdosa (bukan berbuat dosa) sejak berada di dalam rahim ibunya. Akibat dari DOSA ASAL yang diperbuat oleh ADAM-HAWA:
Sehingga semua manusia sejak bayi (lahir dari kandungan) mewarisi dosa Adam-Hawa,
yaitu kehilangan kemuliaan, lebih jelas lagi dalam:
*2 Tawarikh 6:36,
Apabila mereka berdosa kepada-Mu— karena tidak ada manusia yang tidak berdosa --dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat,
Hadis Shahih Bukhari no. 1493 setidak-tidaknya juga menyiratkan adanya kultur dosa ketika dikatakan bahwa setiap anak Adam akan disentuh oleh setan ketika lahirnya (kecuali Maryam dan Anaknya). Dan tentulah sentuhan setan itu berkaitan atau berkonotasi dosa (kultur dosa). Bahkan para ahli dari kalangan Islam sulit mengelak kultur dosa ini ketika dihadapkan kepada kemestian masuk ke neraka bagi setiap orang (termasuk bayi tak berdosa), seperti yang tertulis dalam Al~Qur'an dibawh ini:
*QS 19:71,
Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.
Selanjutnya:
-Penebusan Dosa.
Tanya:
Dosa Asal.
Jawab:
Dosa-asal tidak ada hubungannya dengan pemindahan muatan dosa dari siapa saja, melainkan merupakan penjalaran imbasan kultur dosa Adam yang diturunkan kepada seluruh peradaban umat manusia sejak Adam dikutuk dan diusir dari Taman Eden.
Dihadapan Allah, seluruh umat manusia adalah satu didalam kutukan dosa, telah menjadi hamba dosa, condong dan bernafsu berbuat sebagai warisan turun-temurun, dan memang nyatanya telah berbuat dosa:
*Roma 5:12,
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
*Roma 6:16-17,
16Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
17Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
Teman-teman dari kalangan Muslim sering "menuduh" bahwa konsep dosa asal, atau dosa waris, atau apa pun namanya, berasal dari rasul Paulus. Tuduhan itu jelas tidak tepat karena ternyata ide tentang dosa asal itu telah ada di dalam Perjanjian Lama:
*Mazmur 51:5,
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Kutukan atas pelanggaran Adam:
1. Berpeluh untuk mencari makan (Kejadian 3:19)
2. Bersusah-payah mencari rejeki (Kejadian 3:17)
3. Harus menderita sakit (termasuk sakit bersalin), (Kejadian 3:16)
4. Harus merasakan kesedihan (bersusah- payah) dan mengalami kematian jasmani (Kejadian 3:19).
Ujud-ujud kutukan diatas tidak terhindarkan oleh siapapun juga, sekalipun ia seorang nabi.
Dosa-asal dari manusia telah melahirkan semua kesengsaraan ini.
Ini sungguh bertolak belakang dengan Ajaran dari kalangan Muslim, yang justru sering mempermasalahkan Dosa-asal dalam ajaran Kristiani. Dalam ajaran Muslim menyatakan bahwa Allah tidak mengutuk siapa-siapa karena Adam langsung bertobat dan dosanya telah diampuni.
Kalau begitu, darimana datang kesengsaraan dan kejahatan dunia?
Dan Al~Qur'an menjawab bahwa Allah sendiri yang menciptakannya;
*QS. 90:4,
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
*QS 20:123,
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua (Adam dan Hawa) dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain……
Bilamana Allah yang menciptakan penderitaan dunia tanpa kesalahan dari pihak manusia, maka seharusnya – dari sisi keadilan Allah – Ia pulalah yang harus bertanggung jawab mutlak untuk memerdekakan kita semua, tanpa syarat!
Tetapi, Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia dengan segala ciptaanNya dalam keadaan baik karena Ia Maha-Baik.
Dalam satu pasal awal yang pendek saja dari Kitab Kejadian, kita diberitahu sebanyak 6 kali (!) bahwa Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (Kejadian 1:21) dan "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kejadian 1:31).
Allah Alkitab yang Maha-Baik tidak pernah dan tidak mungkin menciptakan manusia itu dalam keadaan susah-payah.
Alkitab mengajarkan bahwa seseorang itu sudah berdosa (bukan berbuat dosa) sejak berada di dalam rahim ibunya. Akibat dari DOSA ASAL yang diperbuat oleh ADAM-HAWA:
Sehingga semua manusia sejak bayi (lahir dari kandungan) mewarisi dosa Adam-Hawa,
yaitu kehilangan kemuliaan, lebih jelas lagi dalam:
*2 Tawarikh 6:36,
Apabila mereka berdosa kepada-Mu— karena tidak ada manusia yang tidak berdosa --dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat,
Hadis Shahih Bukhari no. 1493 setidak-tidaknya juga menyiratkan adanya kultur dosa ketika dikatakan bahwa setiap anak Adam akan disentuh oleh setan ketika lahirnya (kecuali Maryam dan Anaknya). Dan tentulah sentuhan setan itu berkaitan atau berkonotasi dosa (kultur dosa). Bahkan para ahli dari kalangan Islam sulit mengelak kultur dosa ini ketika dihadapkan kepada kemestian masuk ke neraka bagi setiap orang (termasuk bayi tak berdosa), seperti yang tertulis dalam Al~Qur'an dibawh ini:
*QS 19:71,
Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.
Selanjutnya:
-Penebusan Dosa.
Langganan:
Komentar (Atom)