Sabtu, 29 September 2012

6. Surat Menyurat part III!

1.
Tanya:
Tuhan kok haus, Tuhan kok lapar, Tuhan kok.....

Jawab:
Penuduh kurangmemahami bagaimana ke-Inkarnasian Allah!

Keinkarnasian Allah [inkarnasi; dalam wujud Manusia], adalah di mana Allah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti Manusia:

*Filipi 2:6-8,
6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Begitulah keinkarnasian Allah, di mana Allah mengosongkan diri-Nya, menjadi sama seperti manusia.

Dalam kekosongan-Nya ini, membuat Ia bisa merasakan lapar, lelah, tidur, dan hal-hal kemanusiaan lainnya.

Kristus datang ke dunia bukan untuk memamerkan segala yang Ia miliki, melainkan sebagai penggenap Taurat Allah, dan jika semua yang ada di hukum Taurat dan kitab para nabi tergenapi maka berakhirlah;

*Matius 5:18,
Karena Aku brkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap lagit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, SEBELUM SEMUANYA TERJADI.

Kita jangan mengabaikan frasa yang di hurufbesarkan.
Setidaknya kita sudah langsung paham, apa makna nas di atas, terutamanya memperhatikan frasa yang di hurufbesarkan.
Yaitu hukum Taurat dan kitab para nabi tidak akan berakhir sebelum semuanya terjadi, nah bagaimana kalau semuanya sudah terjadi?
Tentu saja akan berakhir.

*Lukas 16:16,
Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.

Dan dalam pekerjaan-Nya ini dilakukan-Nya dalam masa-masa inkarnasi-Nya. Yang demikian juga termasuk dalam menghapus dosa manusia.

Saya tadi ada mengatakan:
Allah konsisten menjalankan sakramen, sekali pun Ia sendiri yang menjadi korban itu.

Konsisten yang saya maksud, selain Allah tidak mengubah sakramen (sakramennya tetap, sama-sama mengalami penderitaan), juga termasuk dalam status, di mana pada saat Penyaliban, Ia masih mengosongkan diri-Nya sehingga Ia betul-betul merasakan siksaan itu, karena kalau Ia tidak mengosongkan diri-Nya pastilah ketika menjalankan sakramen tidak ada derita yang dirasakan-Nya.

*Yohanes 14:28,
. . ., sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

Nas di atas di katakan oleh Yesus saat masa inkarnasi-Nya,
dan kita tahu bagaimana keinkarnasian Yesus, di mana Ia bisa merasakan haus, lapar, tidur, d.l.l, yang tentunya tidak di alami oleh Bapa. Sehingga kedudukan Bapa terlihat lebih besar dari pada Yesus.
[Bahasa Manusianya;
Pada dasarnya Bapa (Tuhan) tidak seperti Yesus (Tuhan menjadi Manusia, masa kemanusiaan) yang bisa merasakan lapar, haus, dll, hal ini di rasakan-Nya ketika Ia menjadi Yesus. Sehingga kedudukan-Nya sebagai Tuhan (Bapa) pastinya lebih besar dibanding kedudukan-Nya sebagai Manusia (Yesus) yang dibatas-batasi.]

Tetapi sekembali-Nya Ia kepada Bapa, Ia akan kembali kepada kedudukan-Nya dan menjadi Bapa itu sendiri:

*Matius 28:18,
Kepada-Ku telah diberikan [harfiah: kembali] segala kuasa di sorga dan di bumi.

Ini sesuai dengan nubuat nabi Daniel;

*Daniel 7:13-14,
13Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia di bawa ke hadapan-Nya.
14Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

Yesus adalah Tuhan yang menjadi Manusia dan kembali menjadi Tuhan (bukan Manusia yang menjadi Tuhan).

*Yohanes 17:8,
Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Bahasa yang Yesus gunakan adalah bahasa yang dalam. Perkataan ini sama persis dengan kata 'diberikan' pada kitab Matius 28 dan Daniel 7.

Perkataan di atas, dapat disesuaikan dgn kitab PL berikut;

*Yesaya 55:11,
demikianlah firman-Ku yang keluar
dari mulut-Ku:
ia tidak akan kembali kepada-Ku
dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa
yang Kukehendaki,
dan akan berhasil dalam apa
yang Kusuruhkan kepadanya.

Jadi, tidak lain atas apa yang Yesus (Firman) katakan di atas dimaksudkan Yesus sedang menyatakan keberhasilan-Nya yang sudah dinubuatkan!

Tuhan mengutus Tuhan, bak Tuhan mengutus Firman-Nya, sesuai dgn nas Yesaya di atas. :)

Nb:
1. Memang ada banyak bukti ke-Hambaan Kristus, tetapi bukti itu bukanlah novum untuk meruntuhkan ke-Tuhanannya, melainkan sebagai novum bahwa Ia memang benar menjadikan diri-Nya Sebagai Hamba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar