1.
Tanya:
Tuhan kok haus, Tuhan kok lapar, Tuhan kok.....
Jawab:
Penuduh kurangmemahami bagaimana ke-Inkarnasian Allah!
Keinkarnasian Allah [inkarnasi; dalam wujud Manusia], adalah di mana Allah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti Manusia:
*Filipi 2:6-8,
6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Begitulah keinkarnasian Allah, di mana Allah mengosongkan diri-Nya, menjadi sama seperti manusia.
Dalam kekosongan-Nya ini, membuat Ia bisa merasakan lapar, lelah, tidur, dan hal-hal kemanusiaan lainnya.
Kristus datang ke dunia bukan untuk memamerkan segala yang Ia miliki, melainkan sebagai penggenap Taurat Allah, dan jika semua yang ada di hukum Taurat dan kitab para nabi tergenapi maka berakhirlah;
*Matius 5:18,
Karena Aku brkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap lagit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, SEBELUM SEMUANYA TERJADI.
Kita jangan mengabaikan frasa yang di hurufbesarkan.
Setidaknya kita sudah langsung paham, apa makna nas di atas, terutamanya memperhatikan frasa yang di hurufbesarkan.
Yaitu hukum Taurat dan kitab para nabi tidak akan berakhir sebelum semuanya terjadi, nah bagaimana kalau semuanya sudah terjadi?
Tentu saja akan berakhir.
*Lukas 16:16,
Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
Dan dalam pekerjaan-Nya ini dilakukan-Nya dalam masa-masa inkarnasi-Nya. Yang demikian juga termasuk dalam menghapus dosa manusia.
Saya tadi ada mengatakan:
Allah konsisten menjalankan sakramen, sekali pun Ia sendiri yang menjadi korban itu.
Konsisten yang saya maksud, selain Allah tidak mengubah sakramen (sakramennya tetap, sama-sama mengalami penderitaan), juga termasuk dalam status, di mana pada saat Penyaliban, Ia masih mengosongkan diri-Nya sehingga Ia betul-betul merasakan siksaan itu, karena kalau Ia tidak mengosongkan diri-Nya pastilah ketika menjalankan sakramen tidak ada derita yang dirasakan-Nya.
*Yohanes 14:28,
. . ., sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.
Nas di atas di katakan oleh Yesus saat masa inkarnasi-Nya,
dan kita tahu bagaimana keinkarnasian Yesus, di mana Ia bisa merasakan haus, lapar, tidur, d.l.l, yang tentunya tidak di alami oleh Bapa. Sehingga kedudukan Bapa terlihat lebih besar dari pada Yesus.
[Bahasa Manusianya;
Pada dasarnya Bapa (Tuhan) tidak seperti Yesus (Tuhan menjadi Manusia, masa kemanusiaan) yang bisa merasakan lapar, haus, dll, hal ini di rasakan-Nya ketika Ia menjadi Yesus. Sehingga kedudukan-Nya sebagai Tuhan (Bapa) pastinya lebih besar dibanding kedudukan-Nya sebagai Manusia (Yesus) yang dibatas-batasi.]
Tetapi sekembali-Nya Ia kepada Bapa, Ia akan kembali kepada kedudukan-Nya dan menjadi Bapa itu sendiri:
*Matius 28:18,
Kepada-Ku telah diberikan [harfiah: kembali] segala kuasa di sorga dan di bumi.
Ini sesuai dengan nubuat nabi Daniel;
*Daniel 7:13-14,
13Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia di bawa ke hadapan-Nya.
14Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
Yesus adalah Tuhan yang menjadi Manusia dan kembali menjadi Tuhan (bukan Manusia yang menjadi Tuhan).
*Yohanes 17:8,
Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Bahasa yang Yesus gunakan adalah bahasa yang dalam. Perkataan ini sama persis dengan kata 'diberikan' pada kitab Matius 28 dan Daniel 7.
Perkataan di atas, dapat disesuaikan dgn kitab PL berikut;
*Yesaya 55:11,
demikianlah firman-Ku yang keluar
dari mulut-Ku:
ia tidak akan kembali kepada-Ku
dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa
yang Kukehendaki,
dan akan berhasil dalam apa
yang Kusuruhkan kepadanya.
Jadi, tidak lain atas apa yang Yesus (Firman) katakan di atas dimaksudkan Yesus sedang menyatakan keberhasilan-Nya yang sudah dinubuatkan!
Tuhan mengutus Tuhan, bak Tuhan mengutus Firman-Nya, sesuai dgn nas Yesaya di atas. :)
Nb:
1. Memang ada banyak bukti ke-Hambaan Kristus, tetapi bukti itu bukanlah novum untuk meruntuhkan ke-Tuhanannya, melainkan sebagai novum bahwa Ia memang benar menjadikan diri-Nya Sebagai Hamba.
Sabtu, 29 September 2012
5. Surat Menyurat part II!
2.
Tanya:
Penebusan Dosa.
Taggapan:
Kenapa harus ada penebusan dosa?
Kristen adalah 'agama sacramental' ( sacrament religion) yaitu; agama yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh melalui "penebus dosa", bukan dari amal-ibadah (saja).
Prinsip ke-Kristenan ini tidak di miliki oleh agama semitik lainnya misalnya Islam yang hanya menitik beratkan kepada "amal-ibadah" saja, bukan sakramen.
Ketetapan Sakramen sudah ditetapkan, dan ditunjukkan oleh Allah sejak Adam pertama jatuh ke dalam dosa yaitu "darah".
Allah melalui ketentuan hukum Taurat, menetapkan: hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), lihat ayat ini:
*Ibrani 9:22,
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
Ketentuan Korban penghapusan dosa/kesalahan/pelanggaran keseluruhannya adalah dengan "menumpahkan darah".
Dalam Imamat dicatatat macam-macam korban sbb:
-Korban bakaran (Imamat 1:1-17); darah
-Korban Sajian (Imamat 2:1-16) ; tepung/minyak
-Korban Kedamaian/keselamatan (Imamat 3:1-17) ; darah
-Korban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35) ; darah
-Korban Pelanggaran (Imamat 5:1-13) ; darah, (orang miskin boleh memakai tepung dibakar diatas korban "darah" binatang orang lain).
-Korban penebus salah (Imamat 5:14-19; 6:1-7) ; darah
Pada zaman Perjanjian Lama, penumpahan darah sebagai korban pengampunan dosa ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah,
*Kejadian 8:20,
Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
Ini dilakukan berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Mesias pada Perjanjian Baru (Yesaya 53).
Nubuat Lain:
*Kejadian 3:15,
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular) dan perempuan (Hawa) ini, antara keturunanmu dan keturunannya: keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.
::
Keturunannya (akhirnya Yesus), akan meremukkan kepala ular (mengalahkan total), tetapi ular akan meremukkan tumitnya (membuat Ia berdarah).
Nubuat kedatangan Kristus di mulai ketika jatuhnya Adam ke dalam dosa.
Pengakuan Allah:
*Yesaya 43:22-25,
22"Sungguh, engkau tidak memanggil Aku, hai Yakub,
dan engkau tidak bersusah-susah karena Aku, hai Israel
[Yakub adalah sinonim dari Israel, Kej. 32:28]
23Engkau tidak membawa domba korban bakaraanmu bagi-Ku,
dan tidak memuliakan Aku
dengan korban sembelihanmu.
[Seperti penjelasan sebelumnya bagaimana penebusan dosa Kristen/Yahudi itu, yaitu melalui korban bakaran. Dan Israel tidak membawa korban itu]
Aku tidak memberati engkau
dengan menuntut korban sajian
atau menyusahi engkau dengan
menuntut kemenyan.
24Engkau tidak membeli tebu wangi
bagi-Ku dengan uang,
atau mengenyangkan Aku dengan
lembak korban sembelihanmu.
[Allah tidak memberati manusia dalam hal di atas]
Tetapi engkau memberati Aku
dengan dosamu,
engkau menyusahi Aku dengan
kesalahanmu.
[Manusia tidak membawa atau tidak di tuntut dgn apapun, karena Allah-lah yang diberati dan disusahi atas dosa dan kesalahan manusia]
25Aku, Akulah Dia yang menghapus
dosa pemberontakanmu oleh
karena Aku sendiri
dan Aku tidak meningat-ingat
dosamu.
[Allah mengakui bahwa Ia adalah Yesus (yang menghapus dosa manusia), dosa manusia terhapus bukan karena manusia sebab manusia tidak diberati oleh apa pun, tetapi oleh karena Allah sendiri. Dan Ia tidak mengingat dosa manusia. Allah-lah yang menjadi domba (korban sembelihan) manusia. Allah konsisten menjalankan sakramen, sekali pun Ia sendiri yang menjadi korban itu.]
*Yesaya 43:10,
"Kamu inilah saksi-saksi-Ku,"
demikianlah firman TUHAN,
"dan hamba-Ku yang telah Kupilih,
supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku
dan mengerti bahwa Aku tetap Dia.
Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk,
dan sesudah Aku tidak akan ada
lagi
[Sebelum YHWH, tidak ada Allah yang dibentuk (menjadi manusia), dan setelah Ia tidak ada lagi.]
Ini tidak mustahil untuk TUHAN lakukan, dan TUHAN (YHWH) yang adalah Tuhan kami menantang siapa saja yang mau mencegah Ia:
*Yesaya 43:13,
Juga seterusnya Aku tetap Dia,
dan tidak ada yang dapat
melepaskan dari tangan-Ku;
Aku melakukannya, siapakah
yang dapat mencegahnya?"
Haleluya!
m.facebook.com/story.php?story_fbid=269717733110843&id=100002178547439&refid=0&_ft_=fbid.269717733110843
Tanya:
Penebusan Dosa.
Taggapan:
Kenapa harus ada penebusan dosa?
Kristen adalah 'agama sacramental' ( sacrament religion) yaitu; agama yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh melalui "penebus dosa", bukan dari amal-ibadah (saja).
Prinsip ke-Kristenan ini tidak di miliki oleh agama semitik lainnya misalnya Islam yang hanya menitik beratkan kepada "amal-ibadah" saja, bukan sakramen.
Ketetapan Sakramen sudah ditetapkan, dan ditunjukkan oleh Allah sejak Adam pertama jatuh ke dalam dosa yaitu "darah".
Allah melalui ketentuan hukum Taurat, menetapkan: hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), lihat ayat ini:
*Ibrani 9:22,
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
Ketentuan Korban penghapusan dosa/kesalahan/pelanggaran keseluruhannya adalah dengan "menumpahkan darah".
Dalam Imamat dicatatat macam-macam korban sbb:
-Korban bakaran (Imamat 1:1-17); darah
-Korban Sajian (Imamat 2:1-16) ; tepung/minyak
-Korban Kedamaian/keselamatan (Imamat 3:1-17) ; darah
-Korban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35) ; darah
-Korban Pelanggaran (Imamat 5:1-13) ; darah, (orang miskin boleh memakai tepung dibakar diatas korban "darah" binatang orang lain).
-Korban penebus salah (Imamat 5:14-19; 6:1-7) ; darah
Pada zaman Perjanjian Lama, penumpahan darah sebagai korban pengampunan dosa ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah,
*Kejadian 8:20,
Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.
Ini dilakukan berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Mesias pada Perjanjian Baru (Yesaya 53).
Nubuat Lain:
*Kejadian 3:15,
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular) dan perempuan (Hawa) ini, antara keturunanmu dan keturunannya: keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.
::
Keturunannya (akhirnya Yesus), akan meremukkan kepala ular (mengalahkan total), tetapi ular akan meremukkan tumitnya (membuat Ia berdarah).
Nubuat kedatangan Kristus di mulai ketika jatuhnya Adam ke dalam dosa.
Pengakuan Allah:
*Yesaya 43:22-25,
22"Sungguh, engkau tidak memanggil Aku, hai Yakub,
dan engkau tidak bersusah-susah karena Aku, hai Israel
[Yakub adalah sinonim dari Israel, Kej. 32:28]
23Engkau tidak membawa domba korban bakaraanmu bagi-Ku,
dan tidak memuliakan Aku
dengan korban sembelihanmu.
[Seperti penjelasan sebelumnya bagaimana penebusan dosa Kristen/Yahudi itu, yaitu melalui korban bakaran. Dan Israel tidak membawa korban itu]
Aku tidak memberati engkau
dengan menuntut korban sajian
atau menyusahi engkau dengan
menuntut kemenyan.
24Engkau tidak membeli tebu wangi
bagi-Ku dengan uang,
atau mengenyangkan Aku dengan
lembak korban sembelihanmu.
[Allah tidak memberati manusia dalam hal di atas]
Tetapi engkau memberati Aku
dengan dosamu,
engkau menyusahi Aku dengan
kesalahanmu.
[Manusia tidak membawa atau tidak di tuntut dgn apapun, karena Allah-lah yang diberati dan disusahi atas dosa dan kesalahan manusia]
25Aku, Akulah Dia yang menghapus
dosa pemberontakanmu oleh
karena Aku sendiri
dan Aku tidak meningat-ingat
dosamu.
[Allah mengakui bahwa Ia adalah Yesus (yang menghapus dosa manusia), dosa manusia terhapus bukan karena manusia sebab manusia tidak diberati oleh apa pun, tetapi oleh karena Allah sendiri. Dan Ia tidak mengingat dosa manusia. Allah-lah yang menjadi domba (korban sembelihan) manusia. Allah konsisten menjalankan sakramen, sekali pun Ia sendiri yang menjadi korban itu.]
*Yesaya 43:10,
"Kamu inilah saksi-saksi-Ku,"
demikianlah firman TUHAN,
"dan hamba-Ku yang telah Kupilih,
supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku
dan mengerti bahwa Aku tetap Dia.
Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk,
dan sesudah Aku tidak akan ada
lagi
[Sebelum YHWH, tidak ada Allah yang dibentuk (menjadi manusia), dan setelah Ia tidak ada lagi.]
Ini tidak mustahil untuk TUHAN lakukan, dan TUHAN (YHWH) yang adalah Tuhan kami menantang siapa saja yang mau mencegah Ia:
*Yesaya 43:13,
Juga seterusnya Aku tetap Dia,
dan tidak ada yang dapat
melepaskan dari tangan-Ku;
Aku melakukannya, siapakah
yang dapat mencegahnya?"
Haleluya!
m.facebook.com/story.php?story_fbid=269717733110843&id=100002178547439&refid=0&_ft_=fbid.269717733110843
4. Surat Menyurat part I!
1.
Tanya:
Dosa Asal.
Jawab:
Dosa-asal tidak ada hubungannya dengan pemindahan muatan dosa dari siapa saja, melainkan merupakan penjalaran imbasan kultur dosa Adam yang diturunkan kepada seluruh peradaban umat manusia sejak Adam dikutuk dan diusir dari Taman Eden.
Dihadapan Allah, seluruh umat manusia adalah satu didalam kutukan dosa, telah menjadi hamba dosa, condong dan bernafsu berbuat sebagai warisan turun-temurun, dan memang nyatanya telah berbuat dosa:
*Roma 5:12,
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
*Roma 6:16-17,
16Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
17Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
Teman-teman dari kalangan Muslim sering "menuduh" bahwa konsep dosa asal, atau dosa waris, atau apa pun namanya, berasal dari rasul Paulus. Tuduhan itu jelas tidak tepat karena ternyata ide tentang dosa asal itu telah ada di dalam Perjanjian Lama:
*Mazmur 51:5,
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Kutukan atas pelanggaran Adam:
1. Berpeluh untuk mencari makan (Kejadian 3:19)
2. Bersusah-payah mencari rejeki (Kejadian 3:17)
3. Harus menderita sakit (termasuk sakit bersalin), (Kejadian 3:16)
4. Harus merasakan kesedihan (bersusah- payah) dan mengalami kematian jasmani (Kejadian 3:19).
Ujud-ujud kutukan diatas tidak terhindarkan oleh siapapun juga, sekalipun ia seorang nabi.
Dosa-asal dari manusia telah melahirkan semua kesengsaraan ini.
Ini sungguh bertolak belakang dengan Ajaran dari kalangan Muslim, yang justru sering mempermasalahkan Dosa-asal dalam ajaran Kristiani. Dalam ajaran Muslim menyatakan bahwa Allah tidak mengutuk siapa-siapa karena Adam langsung bertobat dan dosanya telah diampuni.
Kalau begitu, darimana datang kesengsaraan dan kejahatan dunia?
Dan Al~Qur'an menjawab bahwa Allah sendiri yang menciptakannya;
*QS. 90:4,
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
*QS 20:123,
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua (Adam dan Hawa) dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain……
Bilamana Allah yang menciptakan penderitaan dunia tanpa kesalahan dari pihak manusia, maka seharusnya – dari sisi keadilan Allah – Ia pulalah yang harus bertanggung jawab mutlak untuk memerdekakan kita semua, tanpa syarat!
Tetapi, Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia dengan segala ciptaanNya dalam keadaan baik karena Ia Maha-Baik.
Dalam satu pasal awal yang pendek saja dari Kitab Kejadian, kita diberitahu sebanyak 6 kali (!) bahwa Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (Kejadian 1:21) dan "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kejadian 1:31).
Allah Alkitab yang Maha-Baik tidak pernah dan tidak mungkin menciptakan manusia itu dalam keadaan susah-payah.
Alkitab mengajarkan bahwa seseorang itu sudah berdosa (bukan berbuat dosa) sejak berada di dalam rahim ibunya. Akibat dari DOSA ASAL yang diperbuat oleh ADAM-HAWA:
Sehingga semua manusia sejak bayi (lahir dari kandungan) mewarisi dosa Adam-Hawa,
yaitu kehilangan kemuliaan, lebih jelas lagi dalam:
*2 Tawarikh 6:36,
Apabila mereka berdosa kepada-Mu— karena tidak ada manusia yang tidak berdosa --dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat,
Hadis Shahih Bukhari no. 1493 setidak-tidaknya juga menyiratkan adanya kultur dosa ketika dikatakan bahwa setiap anak Adam akan disentuh oleh setan ketika lahirnya (kecuali Maryam dan Anaknya). Dan tentulah sentuhan setan itu berkaitan atau berkonotasi dosa (kultur dosa). Bahkan para ahli dari kalangan Islam sulit mengelak kultur dosa ini ketika dihadapkan kepada kemestian masuk ke neraka bagi setiap orang (termasuk bayi tak berdosa), seperti yang tertulis dalam Al~Qur'an dibawh ini:
*QS 19:71,
Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.
Selanjutnya:
-Penebusan Dosa.
Tanya:
Dosa Asal.
Jawab:
Dosa-asal tidak ada hubungannya dengan pemindahan muatan dosa dari siapa saja, melainkan merupakan penjalaran imbasan kultur dosa Adam yang diturunkan kepada seluruh peradaban umat manusia sejak Adam dikutuk dan diusir dari Taman Eden.
Dihadapan Allah, seluruh umat manusia adalah satu didalam kutukan dosa, telah menjadi hamba dosa, condong dan bernafsu berbuat sebagai warisan turun-temurun, dan memang nyatanya telah berbuat dosa:
*Roma 5:12,
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
*Roma 6:16-17,
16Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?
17Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
Teman-teman dari kalangan Muslim sering "menuduh" bahwa konsep dosa asal, atau dosa waris, atau apa pun namanya, berasal dari rasul Paulus. Tuduhan itu jelas tidak tepat karena ternyata ide tentang dosa asal itu telah ada di dalam Perjanjian Lama:
*Mazmur 51:5,
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Kutukan atas pelanggaran Adam:
1. Berpeluh untuk mencari makan (Kejadian 3:19)
2. Bersusah-payah mencari rejeki (Kejadian 3:17)
3. Harus menderita sakit (termasuk sakit bersalin), (Kejadian 3:16)
4. Harus merasakan kesedihan (bersusah- payah) dan mengalami kematian jasmani (Kejadian 3:19).
Ujud-ujud kutukan diatas tidak terhindarkan oleh siapapun juga, sekalipun ia seorang nabi.
Dosa-asal dari manusia telah melahirkan semua kesengsaraan ini.
Ini sungguh bertolak belakang dengan Ajaran dari kalangan Muslim, yang justru sering mempermasalahkan Dosa-asal dalam ajaran Kristiani. Dalam ajaran Muslim menyatakan bahwa Allah tidak mengutuk siapa-siapa karena Adam langsung bertobat dan dosanya telah diampuni.
Kalau begitu, darimana datang kesengsaraan dan kejahatan dunia?
Dan Al~Qur'an menjawab bahwa Allah sendiri yang menciptakannya;
*QS. 90:4,
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
*QS 20:123,
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua (Adam dan Hawa) dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain……
Bilamana Allah yang menciptakan penderitaan dunia tanpa kesalahan dari pihak manusia, maka seharusnya – dari sisi keadilan Allah – Ia pulalah yang harus bertanggung jawab mutlak untuk memerdekakan kita semua, tanpa syarat!
Tetapi, Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia dengan segala ciptaanNya dalam keadaan baik karena Ia Maha-Baik.
Dalam satu pasal awal yang pendek saja dari Kitab Kejadian, kita diberitahu sebanyak 6 kali (!) bahwa Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (Kejadian 1:21) dan "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kejadian 1:31).
Allah Alkitab yang Maha-Baik tidak pernah dan tidak mungkin menciptakan manusia itu dalam keadaan susah-payah.
Alkitab mengajarkan bahwa seseorang itu sudah berdosa (bukan berbuat dosa) sejak berada di dalam rahim ibunya. Akibat dari DOSA ASAL yang diperbuat oleh ADAM-HAWA:
Sehingga semua manusia sejak bayi (lahir dari kandungan) mewarisi dosa Adam-Hawa,
yaitu kehilangan kemuliaan, lebih jelas lagi dalam:
*2 Tawarikh 6:36,
Apabila mereka berdosa kepada-Mu— karena tidak ada manusia yang tidak berdosa --dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat,
Hadis Shahih Bukhari no. 1493 setidak-tidaknya juga menyiratkan adanya kultur dosa ketika dikatakan bahwa setiap anak Adam akan disentuh oleh setan ketika lahirnya (kecuali Maryam dan Anaknya). Dan tentulah sentuhan setan itu berkaitan atau berkonotasi dosa (kultur dosa). Bahkan para ahli dari kalangan Islam sulit mengelak kultur dosa ini ketika dihadapkan kepada kemestian masuk ke neraka bagi setiap orang (termasuk bayi tak berdosa), seperti yang tertulis dalam Al~Qur'an dibawh ini:
*QS 19:71,
Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.
Selanjutnya:
-Penebusan Dosa.
Jumat, 20 April 2012
3. Isabella
Membaca novel ini sama sekali tidak menggoncang iman saya seperti yang di rasakan oleh para rahib Kristen yang berperan dalam novel ini.
Saya merasa bingung dengan keberadaan novel ini yang kelihatannya hanya fiksi belaka (padahal dlm sinopsisnya di sebut Fakta).
Itu dapat saya nilai dari para rahib Kristen yang diperankan secara dungu oleh penulis, dan saya keras mengakui keberadaan Novel ini yang kayaknya hanya Fiksi belaka.
= = =
Persoalan Pelik!
1.
Kayaknya ini novel humoris, sampai saya sendiri tertawa membacanya.
Bukan karena ceritanya sengaja di buat lucu, tetapi ada kesalahan dalam cerita fiksi karangan bapak Maulana ini dan ini sekaligus mendukung ketidakpercayaan saya atas keberadaan novel ini yang dianggap fakta.
Masakan di bilang fakta tetapi ada kesalahan dalam novel ini,
Berikut kelucuan yang saya maksud:
*Isabella hal. 13 paragraf ke-4 - hal. 14,
Sebelum berkata Isabella mencium tangan ayahnya, kemudian kata-katanya mengalir lembut, "Ayah aku membaca Surat Yunus 3 (merupakan bagian dari Kitab Perjanjian Lama), dan jika ayah berkenan aku ingin bertanya karena ada hal-hal yang tidak bisa aku pahami."
"Tentu saja, Anakku. Jangan sungkan-sungkan, tanyakan akan segera kehilangan kesulitanmu."
"Dua Belas Perintah Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita dalam Perjanjian Lama melalui Nabi Musa, apakah itu bukan hukum agama?"
"Ya, itu semua hukum agama," jawab ayah Isabella mantap.
Sudah kalian temukankah kelucuan yang saya maksud?
Ya, kelucuan yang saya maksud,
di sana Isabella sedang memperkarakan surat Yunus pasal 3, dan dari surat Yunus itu pertanyaannya adalah tentang ke-12 Perintah Tuhan yang Tuhan beri dalam kitab PL melalui nabi Musa.
Padahal antara yang di perkarakan dengan yang dipertanyakan tidak ada hubungannya sama sekali,
karena dalam surat Yunus pasal 3 saya tidak menemukan ke-12 perintah Musa, nyatanya surat Yunus pasal 3 berbicara tentang 'Pertobatan Niniwe'.
Lah, jadi darimana asal-usul pertanyaannya?
Masakan lain yang diperkara, lain yang dipertanyakan?
Dan lagi, ke-12 Perintah Tuhan?
Yang mana yah?
Saya rasa saya cuma mengenal 10 Perintah Tuhan (hukum Taurat)!
Darimana lagikah ke-2 Perintah Tuhan yang di maksud dalam buku karangan bapak Maulana ini?
Seperti yang penah saya bilang [Isabella 1], bapak Maulana terlalu gampang berbicara, beliau bisa saja dengan mudahnya memutarbalikkan dan bahkan asal ngomong dalam novel karangannya ini, karena ia tahu siapa pembaca novel ini yang tidak lain mayoritasnya Muslim, jadi pasti saja umat Muslim hanya akan mengikuti sesat-sesat dari bapak Maulana ini, tanpa mempelajari lebih lanjut.
Lihat, yang demikian saja ia sudah salah, pastilah masih banyak salah-salah yang lainnya.
2.
Tanya:
Hukum agama telah berakhir, apakah sekarang mencuri diperbolehkan bagi kita?
Jawab:
Sudah di jawab pada Isabella 2.
Haleluya!
[Nampaknya, bapak Maulana memerankan perkara [keberakhiran hukum Taurat] sebagai perkara yang rumit. Sehingga sampai bab ini, baik bapak Isabella [seorang pendeta tersohor di Cardova] dan juga Michael [guru Isabella] tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan untuk Isabella, tetapi untuk jawaban Micahel sama sekali tidak di tulis. Yah, namanya juga fiksi seenak udel.]
Membaca novel ini sama sekali tidak menggoncang iman saya seperti yang di rasakan oleh para rahib Kristen yang berperan dalam novel ini.
Saya merasa bingung dengan keberadaan novel ini yang kelihatannya hanya fiksi belaka (padahal dlm sinopsisnya di sebut Fakta).
Itu dapat saya nilai dari para rahib Kristen yang diperankan secara dungu oleh penulis, dan saya keras mengakui keberadaan Novel ini yang kayaknya hanya Fiksi belaka.
= = =
Persoalan Pelik!
1.
Kayaknya ini novel humoris, sampai saya sendiri tertawa membacanya.
Bukan karena ceritanya sengaja di buat lucu, tetapi ada kesalahan dalam cerita fiksi karangan bapak Maulana ini dan ini sekaligus mendukung ketidakpercayaan saya atas keberadaan novel ini yang dianggap fakta.
Masakan di bilang fakta tetapi ada kesalahan dalam novel ini,
Berikut kelucuan yang saya maksud:
*Isabella hal. 13 paragraf ke-4 - hal. 14,
Sebelum berkata Isabella mencium tangan ayahnya, kemudian kata-katanya mengalir lembut, "Ayah aku membaca Surat Yunus 3 (merupakan bagian dari Kitab Perjanjian Lama), dan jika ayah berkenan aku ingin bertanya karena ada hal-hal yang tidak bisa aku pahami."
"Tentu saja, Anakku. Jangan sungkan-sungkan, tanyakan akan segera kehilangan kesulitanmu."
"Dua Belas Perintah Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita dalam Perjanjian Lama melalui Nabi Musa, apakah itu bukan hukum agama?"
"Ya, itu semua hukum agama," jawab ayah Isabella mantap.
Sudah kalian temukankah kelucuan yang saya maksud?
Ya, kelucuan yang saya maksud,
di sana Isabella sedang memperkarakan surat Yunus pasal 3, dan dari surat Yunus itu pertanyaannya adalah tentang ke-12 Perintah Tuhan yang Tuhan beri dalam kitab PL melalui nabi Musa.
Padahal antara yang di perkarakan dengan yang dipertanyakan tidak ada hubungannya sama sekali,
karena dalam surat Yunus pasal 3 saya tidak menemukan ke-12 perintah Musa, nyatanya surat Yunus pasal 3 berbicara tentang 'Pertobatan Niniwe'.
Lah, jadi darimana asal-usul pertanyaannya?
Masakan lain yang diperkara, lain yang dipertanyakan?
Dan lagi, ke-12 Perintah Tuhan?
Yang mana yah?
Saya rasa saya cuma mengenal 10 Perintah Tuhan (hukum Taurat)!
Darimana lagikah ke-2 Perintah Tuhan yang di maksud dalam buku karangan bapak Maulana ini?
Seperti yang penah saya bilang [Isabella 1], bapak Maulana terlalu gampang berbicara, beliau bisa saja dengan mudahnya memutarbalikkan dan bahkan asal ngomong dalam novel karangannya ini, karena ia tahu siapa pembaca novel ini yang tidak lain mayoritasnya Muslim, jadi pasti saja umat Muslim hanya akan mengikuti sesat-sesat dari bapak Maulana ini, tanpa mempelajari lebih lanjut.
Lihat, yang demikian saja ia sudah salah, pastilah masih banyak salah-salah yang lainnya.
2.
Tanya:
Hukum agama telah berakhir, apakah sekarang mencuri diperbolehkan bagi kita?
Jawab:
Sudah di jawab pada Isabella 2.
Haleluya!
[Nampaknya, bapak Maulana memerankan perkara [keberakhiran hukum Taurat] sebagai perkara yang rumit. Sehingga sampai bab ini, baik bapak Isabella [seorang pendeta tersohor di Cardova] dan juga Michael [guru Isabella] tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan untuk Isabella, tetapi untuk jawaban Micahel sama sekali tidak di tulis. Yah, namanya juga fiksi seenak udel.]
2. Isabella
Taman Yang di Berkati!
1.
Tanya:
Santo Paulus dalam salah satu suratnya mengatakan bahwa hukum agama adalah kutukan dan Yesus Kristus diturunkan ke dunia untuk membebaskan kutukan itu. {hukum agama = hukum Taurat}
Jawab:
Mereka (Umar Lahmi dan Muaz, pemeran dalam novel ini) sedang mengutip nas dalam Galatia 3:13:
"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
Dan memang Yesus Kristus datang untuk melepaskan kutukan (hukum Taurat) itu (bdk: Mat. 5:17-18).
Hukum Taurat di sebut 'kutukan', alasannya sama saja dengan hukum Taurat disebut sebagai 'pengenal dosa';
*Roma 3:20,
Sebab tidak seorang pun yang dapa dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.
Ada 613 isi Taurat, di mana ada 248 perintah dan ada 365 larangan. Angka 248 merupakan jumlah tulang dalam tubuh manusia dan 365 adalah jumlah hari dalam setahun.
Dan manusia tidak mampu menjalankan ke-613 Misvots ini, kalau tidak mampu sinonimnya melanggar,
Nah, kalau melanggar, berdosa 'kan??
Inilah yang di maksud santo Paulus, kenapa kok karena hukum Taurat manusia mengenal dosa?
Demikian pun hukum Taurat santo Paulus sebut kutukan, karena ada tertulis:
*Ulangan 27:26,
Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!"
Tidak menepati sama saja melanggar.
*Galatia 3:10,
Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat."
Rasul Paulus mengutip nas Ulangan di atas.
*Galatia 3:11,
Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."
Rasul Paulus mengutip nas di bawah ini;
*Habakuk 2:4,
Sesungguhnya orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.
Referensi lain:
*Roma 1:17,
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yag bertolak belakanf dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis:
"Orang benar akan hidup oleh iman."
*Ibrani 10:38,
Tetapi orang-Ku yang benar akan
hidup oleh iman,
dan apabila ia mengundurkan diri,
maka Aku tidak berkenan
kepadanya."
Karena,
*Ibrani 11:1,
Iman adalah dasar segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
2.
Tanya:
Bagaimana dengan tidak: mencuri, berzinah dan seterusnya? Apakah merupakan kutukan ketika mematuhi hukum Taurat itu?
Jawab:
Hukum Taurat adalah hukum yang sudah usang (berakhir),
*Lukas 16:16,
Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
*Matius 11:13,
Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes.
Keberakhiran hukum Taurat, bukan berarti umat Kristen hidup tanpa hukum.
Kristus pernah berpesan:
*Matius 11:28-30,
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
Umat Kristen masih hidup dengan hukum, bedanya kami tidak mengikuti atau tunduk pada hukum Taurat melainkan kepada hukum Kasih (setelah Taurat).
Dan kuk yang Yesus pasang itu adalah hukum Kasih, jumlahnya bukan 613 tetapi hanya 2, yaitu Kasih kepada Allah dan Kasih kepada Manusia:
*Matius 22:36-40,
"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Itulah ketika Yesus ditanyai:
*Lukas 10:25,
Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Yesus tidak mengatakan untuk melakukan 613 isi Taurat, melainkan hanya ke-2 hukum di atas saja.
Hukum Kasih, itulah hukum kami.
Kasih kepada Allah dan kasih kepada Manusia.
Anda sendiri tahu bagaimana mengasihi itu.
Mengasihi tentu saja menghargai, tidak mencuri miliknya, menindasnya, membunuhnya d.l.l.
Kami tidak; mencuri, merampok, berzinah d.l.l, bukan karena mematuhi hukum Taurat melainkan mematuhi hukum Kasih.
Taman Yang di Berkati!
1.
Tanya:
Santo Paulus dalam salah satu suratnya mengatakan bahwa hukum agama adalah kutukan dan Yesus Kristus diturunkan ke dunia untuk membebaskan kutukan itu. {hukum agama = hukum Taurat}
Jawab:
Mereka (Umar Lahmi dan Muaz, pemeran dalam novel ini) sedang mengutip nas dalam Galatia 3:13:
"Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
Dan memang Yesus Kristus datang untuk melepaskan kutukan (hukum Taurat) itu (bdk: Mat. 5:17-18).
Hukum Taurat di sebut 'kutukan', alasannya sama saja dengan hukum Taurat disebut sebagai 'pengenal dosa';
*Roma 3:20,
Sebab tidak seorang pun yang dapa dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.
Ada 613 isi Taurat, di mana ada 248 perintah dan ada 365 larangan. Angka 248 merupakan jumlah tulang dalam tubuh manusia dan 365 adalah jumlah hari dalam setahun.
Dan manusia tidak mampu menjalankan ke-613 Misvots ini, kalau tidak mampu sinonimnya melanggar,
Nah, kalau melanggar, berdosa 'kan??
Inilah yang di maksud santo Paulus, kenapa kok karena hukum Taurat manusia mengenal dosa?
Demikian pun hukum Taurat santo Paulus sebut kutukan, karena ada tertulis:
*Ulangan 27:26,
Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!"
Tidak menepati sama saja melanggar.
*Galatia 3:10,
Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat."
Rasul Paulus mengutip nas Ulangan di atas.
*Galatia 3:11,
Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."
Rasul Paulus mengutip nas di bawah ini;
*Habakuk 2:4,
Sesungguhnya orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.
Referensi lain:
*Roma 1:17,
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yag bertolak belakanf dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis:
"Orang benar akan hidup oleh iman."
*Ibrani 10:38,
Tetapi orang-Ku yang benar akan
hidup oleh iman,
dan apabila ia mengundurkan diri,
maka Aku tidak berkenan
kepadanya."
Karena,
*Ibrani 11:1,
Iman adalah dasar segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
2.
Tanya:
Bagaimana dengan tidak: mencuri, berzinah dan seterusnya? Apakah merupakan kutukan ketika mematuhi hukum Taurat itu?
Jawab:
Hukum Taurat adalah hukum yang sudah usang (berakhir),
*Lukas 16:16,
Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
*Matius 11:13,
Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes.
Keberakhiran hukum Taurat, bukan berarti umat Kristen hidup tanpa hukum.
Kristus pernah berpesan:
*Matius 11:28-30,
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
Umat Kristen masih hidup dengan hukum, bedanya kami tidak mengikuti atau tunduk pada hukum Taurat melainkan kepada hukum Kasih (setelah Taurat).
Dan kuk yang Yesus pasang itu adalah hukum Kasih, jumlahnya bukan 613 tetapi hanya 2, yaitu Kasih kepada Allah dan Kasih kepada Manusia:
*Matius 22:36-40,
"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Itulah ketika Yesus ditanyai:
*Lukas 10:25,
Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Yesus tidak mengatakan untuk melakukan 613 isi Taurat, melainkan hanya ke-2 hukum di atas saja.
Hukum Kasih, itulah hukum kami.
Kasih kepada Allah dan kasih kepada Manusia.
Anda sendiri tahu bagaimana mengasihi itu.
Mengasihi tentu saja menghargai, tidak mencuri miliknya, menindasnya, membunuhnya d.l.l.
Kami tidak; mencuri, merampok, berzinah d.l.l, bukan karena mematuhi hukum Taurat melainkan mematuhi hukum Kasih.
1. Bincang-bincang soal Novel Isabella, seorang putri Kepala Pendeta
tersohor di Cordova, Spanyol. [berikutnya akan saya beri judul:
'Isabella' saja]
Saya hanya akan menyanggah kekeliruan dan masalah yang di hadapi Isabella [Tanya ; Jawab]
= = =
Novel ini di tulis oleh Maulana Muhammad Saeed Dehlvi. Awalnya ditulis dalam bahas Urdu, kemudian diterjemahkan oleh Rahman Ali Al Hasmini pada 15 Agustus 1974! :o,
Waw. Kayaknya ini novel yang sudah sangat lama!
= = =
Tebalnya ada 355 halaman, yang terbagi atas 19 bab.
= = =
Sinopsis:
Novel ini merupakan kisah nyata dari gadis Kristen bernama Isabella, seorang putri Kepala Pendeta tersohor di Cordova, sebuah kota nan indah dan bersejarah di Spanyol.
Ia mempelajari agama Kristen secara mendalam dan tekun, mencoba untuk mencari kebenaran doktrin Kristen dengan membedah prinsip-prinsip dasar kekristenan.
Suatu ketika ia menemukan keraguan dan kejanggalan dalam ajaran Kristen. Tatkala kebenaran terbentang di hadapannya, ia mulai meninggalkan agamanya dan meraih Islam sebagai agama baru. Ia dengan berani dan gigih menghadapi tentangan serta siksaan dari ayah, guru, serta umat Kristen di Cordova.
Sosok Isabella telah melegenda dalam sejarah panjang Islam dan Kristen. Kegigihan dalam menggenggam keyakinan telah menjadi inspirasi jutaan perempuan di berbagai belahan bumi. Sementara bagi para akademisi dan teolog, kisah Isabella tak pernah kering dikaji untuk memelajari perbandingan agama. Novel ini merupakan sebuah karya yang sangat bermanfaat, dikemas dalam sebuah novel yang menarik, menjelaskan perbandingan keyakinan Islam dan Kristen. Satu lagi karya klasik yang akan memberikan pencerahan pada kita.
Sebuah novel spritual yang menyentuh.
= = =
Pengantar:
1.
Tanya:
Trinitias mengiring umat Kristen ke jalan yang salah dari keyakinan monoteisme
Jawab:
Kristen adalah agama monoteisme,
Trinitias itu bukan soal jumlah Tuhan, melainkan tentang keberadaan Tuhan, yang meski terlihat ada lebih tetapi tidak lain adalah Tuhan itu sendiri.
Ilustrasikan saja, misal Saya dan Anda dalam waktu yang sama dalam tempat yang berbeda bertemu atau berbicara dengan Allah, (padahal dalam waktu yang sama, apalagi tempatnya berbeda),
Nah, apakah berarti ada 2 Tuhan di situ?
Atau ketika terjadinya bencana dalam waktu yang sama dan tempat berbeda, Tuhan sama-sama menyelamatkan kita????
Maka tidak mustahil bila Tuhan memperkenalkan 3 Keberadaan-Nya itu yang bukan berarti ada 3 Tuhan.
2.
Tanya:
Injil yang asli ditarik kembali oleh Yang Menurunkan
Jawab:
Alkitab tidak diturunkan, melainkan di tulis tangan oleh lebih dari 40 penulisnya.
Agaknya Pengantar ini asing dengan asal-usul Alkitab.
Karena atas dasar apa ia mengatakan bahwa 'Injil yang asli telah ditarik kembali oleh yang menurunkan'? :D
Agaknya Penulis buku ini terlalu gampang berbicara, tentu saja, karena ia tahu siapa pembacanya.
Pembacanya (mayoritasnya Muslim) pasti hanya akan ikut dengan perkataan Penulis ini tanpa mengetahui lebih lanjut, padahal yang tanpa mereka sadari mereka sendiri telah di kasih pemahaman sesat!
Karena Alkitab sama sekali tidak ditarik oleh Yang Menurunkan (di turunkan saja tidak), melainkan Alkitab itu di tulis oleh lebih dari 40 penulis.
Saya hanya akan menyanggah kekeliruan dan masalah yang di hadapi Isabella [Tanya ; Jawab]
= = =
Novel ini di tulis oleh Maulana Muhammad Saeed Dehlvi. Awalnya ditulis dalam bahas Urdu, kemudian diterjemahkan oleh Rahman Ali Al Hasmini pada 15 Agustus 1974! :o,
Waw. Kayaknya ini novel yang sudah sangat lama!
= = =
Tebalnya ada 355 halaman, yang terbagi atas 19 bab.
= = =
Sinopsis:
Novel ini merupakan kisah nyata dari gadis Kristen bernama Isabella, seorang putri Kepala Pendeta tersohor di Cordova, sebuah kota nan indah dan bersejarah di Spanyol.
Ia mempelajari agama Kristen secara mendalam dan tekun, mencoba untuk mencari kebenaran doktrin Kristen dengan membedah prinsip-prinsip dasar kekristenan.
Suatu ketika ia menemukan keraguan dan kejanggalan dalam ajaran Kristen. Tatkala kebenaran terbentang di hadapannya, ia mulai meninggalkan agamanya dan meraih Islam sebagai agama baru. Ia dengan berani dan gigih menghadapi tentangan serta siksaan dari ayah, guru, serta umat Kristen di Cordova.
Sosok Isabella telah melegenda dalam sejarah panjang Islam dan Kristen. Kegigihan dalam menggenggam keyakinan telah menjadi inspirasi jutaan perempuan di berbagai belahan bumi. Sementara bagi para akademisi dan teolog, kisah Isabella tak pernah kering dikaji untuk memelajari perbandingan agama. Novel ini merupakan sebuah karya yang sangat bermanfaat, dikemas dalam sebuah novel yang menarik, menjelaskan perbandingan keyakinan Islam dan Kristen. Satu lagi karya klasik yang akan memberikan pencerahan pada kita.
Sebuah novel spritual yang menyentuh.
= = =
Pengantar:
1.
Tanya:
Trinitias mengiring umat Kristen ke jalan yang salah dari keyakinan monoteisme
Jawab:
Kristen adalah agama monoteisme,
Trinitias itu bukan soal jumlah Tuhan, melainkan tentang keberadaan Tuhan, yang meski terlihat ada lebih tetapi tidak lain adalah Tuhan itu sendiri.
Ilustrasikan saja, misal Saya dan Anda dalam waktu yang sama dalam tempat yang berbeda bertemu atau berbicara dengan Allah, (padahal dalam waktu yang sama, apalagi tempatnya berbeda),
Nah, apakah berarti ada 2 Tuhan di situ?
Atau ketika terjadinya bencana dalam waktu yang sama dan tempat berbeda, Tuhan sama-sama menyelamatkan kita????
Maka tidak mustahil bila Tuhan memperkenalkan 3 Keberadaan-Nya itu yang bukan berarti ada 3 Tuhan.
2.
Tanya:
Injil yang asli ditarik kembali oleh Yang Menurunkan
Jawab:
Alkitab tidak diturunkan, melainkan di tulis tangan oleh lebih dari 40 penulisnya.
Agaknya Pengantar ini asing dengan asal-usul Alkitab.
Karena atas dasar apa ia mengatakan bahwa 'Injil yang asli telah ditarik kembali oleh yang menurunkan'? :D
Agaknya Penulis buku ini terlalu gampang berbicara, tentu saja, karena ia tahu siapa pembacanya.
Pembacanya (mayoritasnya Muslim) pasti hanya akan ikut dengan perkataan Penulis ini tanpa mengetahui lebih lanjut, padahal yang tanpa mereka sadari mereka sendiri telah di kasih pemahaman sesat!
Karena Alkitab sama sekali tidak ditarik oleh Yang Menurunkan (di turunkan saja tidak), melainkan Alkitab itu di tulis oleh lebih dari 40 penulis.
Langganan:
Komentar (Atom)